Terkini

Menapaki Titik Nol Tangerang



Menelusuri kota Tangerang, Banten, berikut sejarahnya tidak dapat dilepaskan dari beberapa hal yang saling mempunyai keterkaitan erat. Beberapa hal menarik itu, pertama, Tangerang merupakan sebuah titik pertemuan antaretnis dan kebudayaan yang telah berakulturasi sekian lama.

Kedua, Tangerang mempunyai tempat-tempat bersejarah yang kaya akan cerita. Ketiga, daerah yang bernama Pasar Lama di Tangerang merupakan kawasan yang dapat dibilang sebagai wajah kuno kota ini. Sungai Cisadane yang mengular panjang, menjadi saksi sebagai pintu masuk bagi para imigran semasa zaman dahulu. Peran sungai ini bagi masyarakat Tangerang masih terasakan sampai sekarang.

Melangkah menelusuri jengkal demi jengkal Jalan Kisamaun, atau lebih dikenal sebagai Pasar Lama, Anda akan merasa seperti berada di pecinan.

Di pusat kota atau titik nol Kota Tangerang, Banten, beragam bangunan kuno dan pusat kuliner Nusantara siap menyambut Anda. Inilah kota yang menjadi awal akulturasi budaya Tiongkok di Pulau Jawa, yang denyutnya masih terasakan jika Anda menjejakkan kaki di titik nol.

Di daerah ini terdapat sebuah bangunan tua yang merupakan tempat peribadatan bagi umat Konghucu, Budha dan Tao, ber nama Kelenteng Boen Tek Bio.“Boen Tek Bio mempunyai arti 'Kebajikan Setinggi Gunung dan Sedalam Lautan'.

Pengurus kelenteng tua ini seorang laki-laki baya bernama Oey Tjin Eng. Terlihat jelas arsitektur bangunan ini sangat berkarakter Tionghoa asli.

"Hal itu bukan sesuatu yang mengherankan karena para pekerja yang membangun kelenteng ini memang berasal dari Tiongkok,” ujar dia.

Gedung Utama yang berada di tengah terlihat amat mewah karena dihiasi oleh ukiran-ukiran tua yang megah.
Bagian atap kelenteng terdapat sepasang Liong yang digambarkan seperti berebut mustika, di bawahnya terdapat burung-burung Hong dan Bunga Botan.

Semuanya terbuat dari kertas dan pecahan beling warna-warni berasal dari Tiongkok. Pintu masuk ruangan di sebelah kiri adalah “Pintu Kesusilaan”, di dalamnya terdapat 4 ruangan yang masing-masing terda pat altar bagi dewa-dewa yang berbeda.

Ruangan-ruangan tersebut mengelilingi Gedung Utama. Masuk dari Pintu Kesusilaan lalu para umat bersembahyang mengelilingi dan memberi penghormatan satu per satu dan akhirnya berujung pada Pintu Jalan Kebenaran.

Kelenteng Boen Tek Bio merupakan kelenteng tertua di kota Tangerang. Vihara ini tidak hanya sekadar tempat beribadah, namun juga memiliki beragam agenda aktivitas bidang pendidikan, kegiatan sosial, dan perlombaan aneka seni budaya.

Sebut saja lomba Perahu Naga, Barongsai, dan Liong yang biasanya dikemas dalam perayaan Peh Cun. Kelenteng ini telah direnovasi beberapa kali. “Para pengurus kelenteng adalah pekerja suka rela, namun mereka menjalankan tugas dengan sepenuh hati,” ujar Oey Tjin Eng salah seorang pengurus kelenteng.

Tidak jauh dari kelenteng, terdapat sebuah museum partikelir yang berada dekat Pasar Lama. Seorang warga peranakan asli Tangerang bernama Udaya Halim, didasarkan atas kecintaan dan kepeduliannya dalam menjaga warisan leluhur, mendirikan sebuah museum bernama Benteng Heritage. Bangunan asli museum yang diperkirakan dibangun pertengahan abad 17 itu kemudian direstorasi menjadi museum.

Dalam museum terdapat benda- benda unik yang menceritakan sejarah kehidupan etnis T ionghoa serta berbagai artefak yang menjadi saksi bisu kehidupan masa lalu, mulai dari kedatangan armada Cheng Ho dengan rombongan yang terdiri dari sekitar 300 kapal jung besar dan kecil membawa hampir 30.000 pengikutnya.

Sebagian dari rombongan ini yang dipimpin oleh Chen Ci Lung diyakini sebagai nenek moyang penduduk Tionghoa Tangerang (Cina Benteng) yang mendarat di Teluk Naga pada tahun 1407.
Selain menyaksikan hal-hal yang berhubungan dengan budaya Tionghoa beserta artefak-artefak yang berusia ratusan tahun, Anda dapat juga mendapatkan sebuah galeri yang berisikan berbagai macam kamera tua yang masih bisa menghasilkan gambar berkualitas tinggi. Bagi Anda yang senang dengan musik, Anda juga akan dicengangkan oleh berbagai koleksi alat pemutar lagu mulai dari yang paling kuno; Edisson Phonograph buatan tahun 1890-an sampai zaman Retro.
Seorang pemuda yang biasa disapa Teo bekerja secara sukarela di Museum Bentang sebagai pemandu wisata.
“Museum ini dimiliki oleh swasta, segala urusan perawatan dan penambahan koleksi biasanya merupakan sumbangan dari pihak-pihak luar dan juga uang tiket masuk museum sebesar Rp 20 ribu per orang. Museum ini sebuah proyek yang masih dan akan terus berlangsung,” ujar dia bersemangat.

Ia menambahkan pengunjung yang berdatangan dan peduli dengan sejarah Tionghoa di Indonesia justru lebih ekspatriat atau mahasiswa yang sedang melakukan penelitian.

Menjelang sore suasana Pasar Malam menjadi lebih hidup, seperti terbangun dari tidur siangnya yang lelap. Para pedagang mulai menyiapkan lapak-lapaknya, warung makan pinggir jalan bermunculan menawarkan kuliner lokal yang sedap dengan harga terjangkau.

Ada sate ayam pasar Lama H Ishak, rumah makan pempek Bu Enny, bubur ayam Pasar Lama serta hidangan kuliner Tiongkok, tersedia di berbagai sudut. Jadi, selain perja- lanan menelusuri sejarah, bertandang ke Pasar Lama juga cocok bagi penjelajah kuliner khas Nusan- tara. Tidak perlu berpikir dua kali, silakan menjelajahi ragam kebudayaan dan keselarasan tempat itu. Anda pasti akan jatuh cinta. 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mata Kota | Hello Tangerang Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Gambar tema oleh Bim. Diberdayakan oleh Blogger.